MAKALAH
PENJELASAN HADIST TENTANG SIFAT PENDIDIK (Toleransi
dan Bijaksana)
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA
KULIAH
HADIST TARBAWI
DOSEN :Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.
DISUSUN OLEH :
JALALUDIN :2144100288
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
2015
|
|
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah
SWT, Tuhan Semesta Alam. Yang hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya
kepada-Nya kita meminta pertolongan. Sholawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga , sahabat, dan semoga
kita sebagai umatnya mendapatkan syafaatnya di hari kiamat nanti. Amien.
Alhamdulillah, kami
bersyukur dan berserah diri kepada Allah, karena kemurahan dan rahmat-Nya-lah
kami bisa menyelesaikan penyusunan makalah Hadits Tarbawi khususnya Hadits Sifat
Pendidik Toleransi dan Bijaksana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Pemakalah
menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu
saran-saran yang bersifat membangun sangat diharapkan dan akan disambut dengan
senang hati. Akhir kata pemakalah sangat berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk masyarakat.
Pontianak, Januari 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………… i
PENGANTAR…………………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iii
A.
PENDAHULUAN……………….….……………………………………………. 4
1.
Latar
Belakang ..............………....…………………………………………… 4
2.
Tujuan
Penulisan……………….……….……………………………………. 4
3.
Manfaat
Penulisan…………….………...……………………………………. 4
B.
PEMBAHASANHADIST
TENTANG SIFAT PENDIDIK
( TOLERANSI
DANBIJAKSANA )............……………...…………………….. 5
1.
Matan
Hadist……………………..……........................................................... 5
2.
Sanad
Hadist...................................................................................................... 6
3.
Kajian
Kosa
Kata............................................................................................... 7
4.
Makna
Umum Hadist Persfektif
Pendidikan..................................................... 9
a.
Kapasitas
Pembicara dalam
hadist.............................................................. 9
b.
Kandungan
hadist persfektif
Pendidikan..................................................... 9
1)
Toleransi................................................................................................ 10
2)
Bijaksana................................................................................................ 11
C.
KESIMPULAN…………………………….…………………………………….. 13
DAFTAR PUSTAKA
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam praktek pendidikan salah satu komponen penting
dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan
yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah barisan yang berada di
barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang harus langsung
berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan
teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan
keteladanan.
Guru merupakansalahsatufaktorpenentukualitaspendidikan. Bilagurunyamemilikikualitasakademik,
berkompetendan professional, makadiharapkan proses pendidikan yang
berjalandapat optimal danmenghasilkanout putlulusan yang kompetitif.
Sebaliknya, bila guru tersebuttidakmemenuhikualitasakademik,
tidakkompetendantidak professional makakeseluruhan proses pendidikantidakakan
optimal. Untukdapatmenghasilkan guru yang professional
makaupayapeningkatandanpengembangankompetensi guru mutlakdiperlukan.
DalamlembagaPendidikan, tugasutama guru adalahmendidikdanmengajar. Dan
agar tugasutamatersebutdapatdilaksanakandenganbaik, iaperlumemiliki sifat tertentu, yaitu sifat seorang guru
sebagaimana pribadi rasulullah.
Salah satu materi hadist yang terkait dengan sifat
guru adalah hadist tentang sifat toleransi dan bijaksana. Sebagaimana yang akan
di paparkan dalam makalah ini, khususnya hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari.
2. Tujuan Penulisan
Memahami hadits secara sistematis dan
mengimplementasikannya secara baik dan benar.
3. Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini diharapkan bisa menjadi suatu bahan
pertimbangan untuk dapat memahami hadits secara utuh.
B. PEMBAHASAN HADIST TENTANG SIFAT PENDIDIK ( TOLERANSI
DAN BIJAKSANA )
1. Matan Hadits
عن أبى
هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ
النَّاسُ ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « دَعُوهُ
وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ ،
فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ (رواه
البخاري)
Terjemahan
:
Dari Abu
Hurairah berkata :“Seorang ‘Arab (Badui) berdiri dan kencing di masjid. Maka
para sahabat ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun
bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan
setimba air -atau dengan setimba besar air-. Sesungguhnya kalian diutus untuk
memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR Bukhari)
Selain hadist yang disandarkan pada Abu Khurairah, juga ada hadist yang
disandarkan pada Anas dengan konteks yang sama, yaitu :
وَعَنْ أَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي
طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
“Dari Anas bin Malik –radiyallahu ‘anhu-, dia berkata, “Pernah datang seorang arab Badui, lalu dia kencing di pojok masjid, kemudian orang-orang menghardiknya, dan Rasulullah menahan hardikan mereka. Ketika dia telah menyelesaikan kencingnya, maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memerintahkan (untuk mengambil) seember air, lalu beliau siramkan ke tempat itu” (Muttafaqun ‘Alaihi)
2. Sanad Hadits
Dari segi sanad dapat kita lihat bahwa hadits ini selain
disandarkan kepada Abu Hurairah, juga disandarkan kepada Anas bin Malik yang
merupakan generasi thabaqat awal dan merupakan golongan sahabat yang
notabene hidup sezaman dengan Rasululloh saw.
Para sahabat seluruhnya adalah adil, baik yang
terlibat dalam fitnah ataupun tidak. Ini merupakan kesepakatan bagi orang-orang
yang memperhatikan mereka. Arti dari mereka adil adalah jauhnya mereka dari
kesengajaan berbuat dusta dalam periwayatan dan upaya menyelewengkannya.
Implikasinya adalah bahwa riwayat mereka seluruhnya diterima tanpa harus
membicarakan mengenai keadilan mereka. Siapapun yang terlibat dalam
fitnah, itu semata-mata dikarenakan ijtihad mereka yang kurang tepat tanpa
unsur kesengajaan. Bagaimanapun kita harus bersikap husnudzan kepada mereka
sebab merekalah yang mengemban syariat dan hidup dalam generasi terbaik umat
ini.
Imam Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali memiliki
pendapat yang berbeda yang dikutip dari perkataan Sa’id bin Musayyab, bahwa
beliau berkata :” Sahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang
yang pernah bersama Rasululloh saw. selama setahun atau dua tahun, dan pernah
turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.”
Atau dapat kita lihat didalam pernyataan Al-Mazini
yang terdapat didalam syarah kitab Al-Burhan :” Kita tidak begitu saja
mengatakan bahwa sahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan
Nabi saw. satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadang-kadang, atau
berkumpul bersama beliau karena satu kepentingan , setelah itu berpaling,
melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau,
dan mengikuti cahaya yang diturunkan Allah. Mereka itulah orang-orang yang
beruntung.”
Dari penjelasan diatas nampaknya sudah jelas bahwa
hadits ini merupakan hadits shohih dan dapat dijadikan hujjah, dilihat dari
kualitas sanad hadits, matan hadits maupun periwayat haditsnya.
3.
Kajian Kosakata
قام أعرابي(Seorang Arab
badui berdiri). أعرابي adalah bentuk jamak (plural) dari kataعربيsementara yangdimaksud denganعربي adalah orang yang tinggal di tempat terpencilseperti
pedusunan, baik bangsa Arab maupun non-Arab. Diriwayatkan oleh AbuBakar
At-Tarikhi dari Abdullah bin Nafi' Al Mazini, bahwa orangtersebut bernama Al
Aqra' bin Habis At-Tamimi.Ditambahkan
oleh Ibnu Uyainah dalam riwayat ImamTirmidzi dan selainnya di bagian lain
dengan mengatakan, "Bahwasanya orang itu shalat kemudian berdoa, 'Ya
Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau memberi rahmat seorang
pun bersama kami.' Maka Nabi SAW bersabdakepadanya, 'Sungguh engkau telah
menutup sesuatu yang sangat luas:Lalu tidak lama setelah itu orang tersebut
kencing di masjid."
Tambahan seperti ini akan disebutkan pula oleh Imam Bukharisecara
tersendiri dalam bab "Al Adab" melalui jalur Az-Zuhri dari AbuSalamah
dari Abu Hurairah. Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban
secara lengkap melalui jalur Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu
Hurairah RA. Demikian pula halnya denganriwayat Ibnu Majah dari hadits Watsilah
bin Al Asqa'.
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Musa Al Madini dalam kitabAsh-Shahabah
melalui jalur Muhammad bin Amru bin Atha' dariSulaiman bin Yasar. Ia
berkata, "Datang dzul Khuwaisharah Al Yamani,seorang yang tidak mengenal
sopan santun." Lalu beliau menyebutkankisah yang dimaksud secara lengkap,
namun hanya dari segi maknanyadisertai tambahan keterangan. Akan tetapi,
derajat riwayat itu sendiriadalah mursal (tidak disebutkan nama sahabat
yang meriwayatkannya).Di samping itu dalam silsilah periwayatannya terdapat
seorang perawiyang tidak disebutkan secara transparan, yaitu perawi yang berada
diantara Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Amru bin Atha".
Lalu Abu Musa meriwayatkan pula hadits ini melalui jalur AlAsham
dari Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi dari Ahmad bin Khalid Adz-Dzahabi dari Sulaiman bin
Yasar. Kemudian hadits ini disebutkan pula dalam kitab Kumpulan Musnad Ibnu
Ishaq oleh Abu Zur'ah Ad- Dimasyqi dari jalur para ulama Syam dari Ibnu lshaq,
selanjutnya samaseperti jalur periwayatan tersebut di atas. Akan tetapi
dikatakan di bagianawalnya, "Datang Dzul Khuwaisharah At-Tamimi, seorang
yang tidakmengenal sopan santun." Sementara At-Tamimi adalah Harqus binZuhair
yang kelak menjadi pemimpin golongan Khawarij. Untuk itusebagian ulama
membedakan antara At-Tamimi dengan Al Yamani, akantetapi kisah ini memiliki
sumber yang akurat.
فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ(Orang-orangpun mencegahnya), yakni dengan lisan(ucapan) mereka. Sementara dalam riwayat Imam
Bukhari dalam bab "AlAdab" disebutkan, "Maka orang-orang bergerak
mendekatinya." Lalubeliau menyebutkan pula dari hadits Anas, "Maka
mereka berdiri menujukepadanya." Dalam riwayat Al Isma'ili dikatakan,
"Maka parasahabatnya hendak mencegahnya." Kemudian dalam riwayat Anasdisebutkan,
"Maka orang-orang melarangnya."
Diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dari jalur Abdan -salah seorangguru
Imam Bukhari- dengan lafazh, "Maka orang-orang dengan suaralantang
menegurnya." Demikian pula yang dinukil oleh An-Nasa'i darijalur Ibnu
Mubarak. Dari riwayat-riwayat ini menjadi jelas bahwapencegahan yang dilakukan
oleh para sahabat adalah dengan lisanmereka dan bukan dengan menggunakan tangan
(kekerasan). Sementaraitu dalam riwayat Imam Muslim dari jalur Ishaq dari Anas
disebutkan,"Maka para sahabat berkata kepadanya, 'berhenti... berhenti...!"'
فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ(Karena sesungguhnya kamu diutus) Penisbatan kata"diutus" kepada para sahabat hanyalah
dalam bentuk majaz (kiasan),karena sesungguhnya beliau SAW yang diutus
mengemban misi sepertiitu. Akan tetapi oleh karena para sahabat merupakan
penyambung lidahbeliau SAW baik di saat masih hidup maupun setelah wafatnya,
makaapa yang menjadi misi beliau dinisbatkan pula kepada para sahabatnya.Sebab
para sahabat dibebani misi demikian oleh beliau SAW.Demikianlah yang selalu
beliau SAW lakukan setiap kali mengutusseseorang ke setiap pelosok, dimana
beliau SAW senantiasa bersabda,"Permudahlah dan jangan
mempersulit."
4. Makna Umum HaditsPersfektifPendidikan
Secara umum konteks
hadist diatas menggambarkan ketika Rasulallah menyampaikan pengajaran di
masjid, ada seorang Arab pedalaman (Badui) kencing di salah satu sudut masjid.
Rasulallah tidak memarahi bahkan mencegah sahabat yang hendak melarangnya. Selanjutnya
Rasulallah menyuruh sahabat menyiram air kencing tersebut dengan ember. Rasulallahmencegah
para sahabat-sahabat yang mencobamencegahnyadengan kata-kata yang
lembutdanbijak.
Untukmendapatkanpemahaman
yang tepatterhadaphaditstersebut, pemakalahmencobamenjelaskanbaikdariaspekpembicara
(kapasitas) maupunpemahamandarisegikebahasaannya.
a. Kapasitas Pembicara dalam hadist
Dari segi kapasitas pembicara, dalam hadist tersebut
menunjukkan Rasulallah berperan sebagai Rasul ketika menjelaskan bagaimana
membersihkan najis, sehingga ini masuk dalam kajian syar’i. Selain itu sekaligus
Rasulallah ingin menunjukkan
kapasitasnya sebagai Pendidik dengan sifat toleransi dan bijaksaterutamaketika menghadapi
seorang peserta didik yang berasal dari suku Arab pedalaman dengan latar
belakang budaya yang jauh tertinggal dari peserta didik lainnya.
Penempatan kapasitas sebagai manusia biasa dalam
konteks hadist ini tepat karena apa yang ditunjukkan Rasulallah adalah
bagaimana seharusnya bersikap terhadap peserta didik dengan latar belakang yang
berbeda. Olehkarenaitu, bilamisalnyakapasitasbeliausebagaiRasuldalamkontekstersebutmakasemuapendidik
yang tidaktolerandanbijaksanaakandikenaihukumdosa.
Pada makalah ini sengaja kami tidak membahas kapasitas
beliau sebagai Rasul, karena pembahasan kami lebuh menekankan pada asfek sifat
toleransi dan bijaksana dalam hadits tersebut.
b.
Kandungan hadist persfektif Pendidikan
Bahasa yang
disampaikanRasulallahsebagaiseorangpendidikdisampaikanapaadanyadansangatmudahdipahamimaksuddarimatanhaditstersebut.
Adapunpesan yang tekandungdalamhaditstersebutdapat di jelaskankhususnyapadaaspeksifat-sifatsebagaipendidik
:
1.
Toleransi
Dalam bahasa
Arab kata toleransi diartikan sebagai Tasamuh. Imam Ibnu Hajar
mendefenisikan kata al-samhah dengan pengertian kemudahan
yaitu sesuatu yang berlandaskan kemudahan.
Dalam hadits sifat
tasamuh Nabi SAW terlihat pada kataدَعُوهُ (biarkanlah ia) ketika sahabat hendak melarang dan mencegah
seorang Arab Badui tersebut ketika ia kencing didalam masjid. DisiniRasulallah
hendak memberikan kemudahan dan tidak mempersulit muridnya. Sifat seperti itu
sungguh luar bisa dan patut menjadi teladan bagi setiap guru.
Toleransinya
akhlak Nabi –shallallahu a’laihi wa sallam-. Beliau memberi petunjuk kepada
orang Arab Badui tersebut dengan lemah lembut setelah dia selesai kencing, yang
membuat dia mengkhususkan doanya untuk nabi, dia berkata, “Ya Allah,
rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah engkau rahmati seorangpun yang ada
bersama kami”, sebagaimana yang terdapat di Shahih Al Bukhori.
Ini menunjukkan
sifat toleran terhadap murid justru membawa dampak positif bagi murid sehingga
merasa dihargai dan diperlakukan lembut, sehingga proses untuk mendapat ilmu
dari sang guru lebih mudah.
Dari aspek budaya,
Orang yang kencing didalam masjid tersebut merupakan masyarakat biasa yang Jauh dari budaya masyarakat kota menyebabkan
kurangnya pengetahuan dan kebodohan.Dalam konteks pembelajaran ini bisadiibaratkanseorang
murid yang hendakbelajarmemilikilatarbelakangbudaya misalnya yang
jauhtertinggaldari murid-muridlainnya. Sehinggatidakterbiasadenganetikaselayaknyaseorangmuslim.
Sepertiakhlaqdalambelajardanketikaberadadidalam masjid.
Namun dalam
kapasitas sebagai seorang guru, disini tampak Rasulallah sangat luas
pandangan beliau dan pengenalan beliau tentang tabiat manusia serta kondisi budaya dan
psikologis muridnya. Serta baiknya akhlak beliau bersama mereka sampai-sampai
seluruh hati mereka mencintai beliau, Allah ta’ala berfirman, “Dan
sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS Al Qolam :
4).
2.
Bijaksana
Dalam
bahasa arab kata bijaksana diterjemahkan dengan kataحكيم atau الحكمة( kebijaksanaan). Dalam konteks hadits diatas
Rasulallah sangat bijaksana ketika mencegah para sahabat untuk tidak memarahi
dan menghardiknya apalagi mengusir karena akan berdampak mudhorat yang lebih
besar yaitu tersebarnya air kencing ke berbagai tempat di dalam masjid. Dan
iniakanmenimbulkankesulitandalammembersihkannya.
Ketika
ada berbagai kerusakan berkumpul, maka yang dilakukan adalah kerusakan yang
lebih ringan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membiarkannya sampai
selesai kencing, agar tidak mengakibatkan mudhorat dengan terputusnya kencing
(secara mendadak) dan dari terkotorinya badannya, pakaiannya, dan menyebarnya
kencing tersebut ke daerah lain di dalam masjid tersebut, serta bahaya yang
terjadi pada tubuhnya khususnya saluran kencing.
InibisadibayangkanseandainyaRasulallahmembiarkanjama’ah
yang hadirdalammajelistersebutmemarahidanmengusirseorangBaduiyang sangatawamtersebut.Tentuakanlebihbanyaklagimudhorat
yang akanmuncul, diantaranya air kencingtersebutakanberceceranlebihluaslagi,
dariaspekpsikologisakanmenimbulkan trauma bagisi murid
untukmenghadirimajelisilmuRasulallah, merasarendahdiridan minder,
sehinggamerekaakanterustertinggal.
Dari
sinijelasmemberiisyaratbahwaseorangpendidikseharusnyamemilikisfatbijaksana,
mengingatlatarbelakangmasing-masing murid berbedadantidakbisadigeneralisirbahwamerekapintarsemuadanmemilikilatarbelakang
yang sama.Sehinggaperlupendekatanmaupuncara yang
berbedadalammenghadapipesertadidik.
Selainitudalamhaditsdiatasmemberipemahamanbahwa
yang dikenai hukum-hukum syar’I berupa dosa atau hukuman di dalam kehidupan
hanyalah untuk orang yang tahu terhadap hukumnya, adapun orang yang bodoh maka
tidak tercela baginya, akan tetapi diajarkan padanya agar dia mengerjakannya.Inimenuntutseorang
guru harusbenar-benarfahamakankondisipesertadidik.
Perlukebijaksanaanmengahadapipesertadidikterutamadalammemberikanhukumanatausanksi.
SikapbijaksanajugadapatdilihatbagaimanaRasulallahmenegursahabatnyadengan
kata-kata yang lembutsepertipadakalimatterakhirhaditstersebutفَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ (Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi
kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan).Tegurantersbutcukupjelastapitidakmembuatsahabattersinggung.InimenunjukkanbahwaRasulallahmemiliki
control emosi yang tinggidanmemilikikecerdasandalammenggunakankalimatteguran
yang sangatlembuttapitetaptegas. Bilaseorang guru
memperlakukanmuridnyademikiantentusecarapsikologisakanberdampakpositifterhadap
proses pembelajaran, murid terasanyamanmengikutipelajaran.
Anjuran
lemah lembut dalam mengajarkan orang yang bodoh tanpa kekerasanAllah Ta’ala
berfirman:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan
hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Di ayatlainAllah
Ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
C. KESIMPULAN
Berlaku lembut terhadap orang yang
tidak tahu dan mengajarinya mengenai perkara yang mesti dilakukannya tanpa
diiringi kekerasan jika perbuatan tersebut tidak dilakukannya dalam rangka
pembangkangan. Perlakuan lembut seperti ini lebih dianjurkan untukdilakukan
terhadap mereka yang perlu dilunakkan hatinya.
Penjelasan tentang kasih sayang dan
kelembutan NabiSAW serta kebaikan akhlaknya. Disebutkan oleh Ibnu Majah dan
Ibnu Hibban dalam hadits Abu Hurairah RA, "Setelah orang Arab badui
tersebut memahami ajaran Islam, dia berdiri menghampiri Nabi SAW seraya
berkata, 'Demi bapak dan ibuku, sungguh engkau tidak berlaku kasar dan tidak mencela.'"
Haditsini mengajarkan kepada kita bagaimana
toleransinya akhlak Nabi –shallallahu a’laihi wa sallam-. Beliau memberi
petunjuk kepada orang arab Badui tersebut dengan lemah lembut setelah dia
selesai kencing. Luasnya pandangan beliau dan pengenalan beliau tentang tabiat
manusia serta baiknya akhlak beliau bersama mereka sampai-sampai seluruh hati
mereka mencintai beliau, Allah ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau
benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS, Al-Qolam : 4).
Dalam kajian sederhana, hadits ini memberitahukan
kepada kita bahwa ketika ada berbagai kerusakan berkumpul, maka yang dilakukan
adalah kerusakan yang lebih ringan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
membiarkannya sampai selesai kencing, agar tidak mengakibatkan mudhorat dengan
terputusnya kencing (secara mendadak) dan dari terkotorinya badannya,
pakaiannya, dan menyebarnya kencing tersebut ke daerah lain di dalam masjid
tersebut, serta bahaya yang terjadi pada tubuhnya khususnya saluran kencing.
Pesan yang disampaikanolehRasulallahdalamhadistsaratdengannilai-nilai yang
selayaknyakitateladani. Dan
sifattoleransisertabijaksanadalampembelajaranmerupakansifat yang
harusdimilikiolehseorang guru, mengingatlatarbelakangantara murid yang
satudenganlainnyatidaksama. Makaseorang guru dibutuhkankepekaandankecerdasandalammengadapi
murid-muridnya.InilahkonsepHakasasi yang ideal menurutpemakalah,
karenasikaplembutnamuntetaptegastidakakanmembuat
murid-muridnyatertekandalammengikutipembelajaran. Bahkan rasa
amandannyamanmembuat murid-muridnyasemangatdalammengikutipembelajara.
DAFTAR PUSTAKA
1. Thahan , Mahmud , Ilmu Hadits Praktis,
(penterjemah Abu Fuad), (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2010)
2. Sabiq, Sayyid , 1993, Fikih Sunah, (penterjemah Mahyuddin
Syaf), Bandung: Al-Ma’arif.
3. Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar, 2002, Tarjamah Fathul Baari Sarah Sahih
Al-Bukhari, (penterjemah Amiruddin, Lc), Jakarta: Pustaka Azzam.
4. Pranata, Zudi, 2012. http/zudi-pranata.blogspot.com/2012/11/perspekstif-hadits-tentang-sifat-sifat_17.htmldiaksestanggal 31 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar