Selasa, 10 Februari 2015

Toleransi dan Bijaksana




MAKALAH
PENJELASAN HADIST TENTANG SIFAT PENDIDIK (Toleransi dan Bijaksana)



DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
HADIST TARBAWI

DOSEN :Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.




DISUSUN OLEH :
JALALUDIN :2144100288


PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
2015

 
KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Yang hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga , sahabat, dan semoga kita sebagai umatnya mendapatkan syafaatnya di hari kiamat nanti. Amien.

Alhamdulillah, kami bersyukur dan berserah diri kepada Allah, karena kemurahan dan rahmat-Nya-lah kami bisa menyelesaikan penyusunan makalah Hadits Tarbawi khususnya Hadits Sifat Pendidik Toleransi dan Bijaksana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

 Pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu saran-saran yang bersifat membangun sangat diharapkan dan akan disambut dengan senang hati. Akhir kata pemakalah sangat berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk masyarakat.


Pontianak,    Januari 2015

Penulis














DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………     i
PENGANTAR……………………………………………………………………   ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………  iii
A.    PENDAHULUAN………………..…………………………………………….  4
1.      Latar Belakang ..............………....……………………………………………   4
2.      Tujuan Penulisan……………….……….…………………………………….    4
3.      Manfaat Penulisan…………….………...…………………………………….   4

B.     PEMBAHASANHADIST TENTANG SIFAT PENDIDIK
( TOLERANSI DANBIJAKSANA )............……………...……………………..   5
1.      Matan Hadist……………………..……...........................................................   5
2.      Sanad Hadist......................................................................................................  6
3.      Kajian Kosa Kata...............................................................................................   7
4.      Makna Umum Hadist Persfektif Pendidikan.....................................................  9
a.       Kapasitas Pembicara dalam hadist..............................................................    9
b.      Kandungan hadist persfektif Pendidikan.....................................................  9
1)      Toleransi................................................................................................    10
2)      Bijaksana................................................................................................   11
C.     KESIMPULAN…………………………….……………………………………..   13
DAFTAR PUSTAKA







A.    PENDAHULUAN

1.       Latar Belakang

Dalam praktek pendidikan salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah barisan yang berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang harus langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan.

Guru merupakansalahsatufaktorpenentukualitaspendidikan. Bilagurunyamemilikikualitasakademik, berkompetendan professional, makadiharapkan proses pendidikan yang berjalandapat optimal danmenghasilkanout putlulusan yang kompetitif. Sebaliknya, bila guru tersebuttidakmemenuhikualitasakademik, tidakkompetendantidak professional makakeseluruhan proses pendidikantidakakan optimal. Untukdapatmenghasilkan guru yang professional makaupayapeningkatandanpengembangankompetensi guru mutlakdiperlukan.

DalamlembagaPendidikan, tugasutama guru adalahmendidikdanmengajar. Dan agar tugasutamatersebutdapatdilaksanakandenganbaik, iaperlumemiliki sifat tertentu, yaitu sifat seorang guru sebagaimana pribadi rasulullah.

Salah satu materi hadist yang terkait dengan sifat guru adalah hadist tentang sifat toleransi dan bijaksana. Sebagaimana yang akan di paparkan dalam makalah ini, khususnya hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari.

2.       Tujuan Penulisan

Memahami hadits secara sistematis dan mengimplementasikannya secara baik dan benar.

3.      Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan bisa menjadi suatu bahan pertimbangan untuk dapat memahami hadits  secara utuh.
  

B.     PEMBAHASAN HADIST TENTANG SIFAT PENDIDIK ( TOLERANSI DAN BIJAKSANA )

1.      Matan Hadits

عن أبى هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ (رواه البخاري)

Terjemahan :

Dari Abu Hurairah berkata :“Seorang ‘Arab (Badui) berdiri dan kencing di masjid. Maka para sahabat ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air -atau dengan setimba besar air-. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR Bukhari)

Selain hadist yang disandarkan pada Abu Khurairah, juga ada hadist yang disandarkan pada Anas dengan konteks yang sama, yaitu :

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari Anas bin Malik –radiyallahu ‘anhu-, dia berkata, “Pernah datang seorang arab Badui, lalu dia kencing di pojok masjid, kemudian orang-orang menghardiknya, dan Rasulullah menahan hardikan mereka. Ketika dia telah menyelesaikan kencingnya, maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memerintahkan (untuk mengambil) seember air, lalu beliau siramkan ke tempat itu” (Muttafaqun ‘Alaihi)



2.      Sanad Hadits

Dari segi sanad dapat kita lihat bahwa hadits ini selain disandarkan kepada Abu Hurairah, juga disandarkan kepada Anas bin Malik yang merupakan generasi thabaqat awal dan merupakan golongan sahabat yang notabene hidup sezaman dengan Rasululloh saw.

Para sahabat seluruhnya adalah adil, baik yang terlibat dalam fitnah ataupun tidak. Ini merupakan kesepakatan bagi orang-orang yang memperhatikan mereka. Arti dari mereka adil adalah jauhnya mereka dari kesengajaan berbuat dusta dalam periwayatan dan upaya menyelewengkannya. Implikasinya adalah bahwa riwayat mereka seluruhnya diterima tanpa harus membicarakan mengenai keadilan mereka.  Siapapun yang terlibat dalam fitnah, itu semata-mata dikarenakan ijtihad mereka yang kurang tepat tanpa unsur kesengajaan. Bagaimanapun kita harus bersikap husnudzan kepada mereka sebab merekalah yang mengemban syariat dan hidup dalam generasi terbaik umat ini.

Imam Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali memiliki pendapat yang berbeda yang dikutip dari perkataan Sa’id bin Musayyab, bahwa beliau berkata :” Sahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang yang pernah bersama Rasululloh saw. selama setahun atau dua tahun, dan pernah turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.”

Atau dapat kita lihat didalam pernyataan Al-Mazini yang terdapat didalam syarah kitab Al-Burhan :” Kita tidak begitu saja mengatakan bahwa sahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan Nabi saw. satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadang-kadang, atau berkumpul bersama beliau karena satu kepentingan , setelah itu berpaling, melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dari penjelasan diatas nampaknya sudah jelas bahwa hadits ini merupakan hadits shohih dan dapat dijadikan hujjah, dilihat dari kualitas sanad hadits, matan hadits maupun periwayat haditsnya.
3.      Kajian Kosakata

قام أعرابي(Seorang Arab badui berdiri). أعرابي adalah bentuk jamak (plural) dari kataعربيsementara yangdimaksud denganعربي adalah orang yang tinggal di tempat terpencilseperti pedusunan, baik bangsa Arab maupun non-Arab. Diriwayatkan oleh AbuBakar At-Tarikhi dari Abdullah bin Nafi' Al Mazini, bahwa orangtersebut bernama Al Aqra' bin Habis At-Tamimi.Ditambahkan oleh Ibnu Uyainah dalam riwayat ImamTirmidzi dan selainnya di bagian lain dengan mengatakan, "Bahwasanya orang itu shalat kemudian berdoa, 'Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau memberi rahmat seorang pun bersama kami.' Maka Nabi SAW bersabdakepadanya, 'Sungguh engkau telah menutup sesuatu yang sangat luas:Lalu tidak lama setelah itu orang tersebut kencing di masjid."

Tambahan seperti ini akan disebutkan pula oleh Imam Bukharisecara tersendiri dalam bab "Al Adab" melalui jalur Az-Zuhri dari AbuSalamah dari Abu Hurairah. Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban secara lengkap melalui jalur Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah RA. Demikian pula halnya denganriwayat Ibnu Majah dari hadits Watsilah bin Al Asqa'.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Musa Al Madini dalam kitabAsh-Shahabah melalui jalur Muhammad bin Amru bin Atha' dariSulaiman bin Yasar. Ia berkata, "Datang dzul Khuwaisharah Al Yamani,seorang yang tidak mengenal sopan santun." Lalu beliau menyebutkankisah yang dimaksud secara lengkap, namun hanya dari segi maknanyadisertai tambahan keterangan. Akan tetapi, derajat riwayat itu sendiriadalah mursal (tidak disebutkan nama sahabat yang meriwayatkannya).Di samping itu dalam silsilah periwayatannya terdapat seorang perawiyang tidak disebutkan secara transparan, yaitu perawi yang berada diantara Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Amru bin Atha".

Lalu Abu Musa meriwayatkan pula hadits ini melalui jalur AlAsham dari Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi dari Ahmad bin Khalid Adz-Dzahabi dari Sulaiman bin Yasar. Kemudian hadits ini disebutkan pula dalam kitab Kumpulan Musnad Ibnu Ishaq oleh Abu Zur'ah Ad- Dimasyqi dari jalur para ulama Syam dari Ibnu lshaq, selanjutnya samaseperti jalur periwayatan tersebut di atas. Akan tetapi dikatakan di bagianawalnya, "Datang Dzul Khuwaisharah At-Tamimi, seorang yang tidakmengenal sopan santun." Sementara At-Tamimi adalah Harqus binZuhair yang kelak menjadi pemimpin golongan Khawarij. Untuk itusebagian ulama membedakan antara At-Tamimi dengan Al Yamani, akantetapi kisah ini memiliki sumber yang akurat.

فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ(Orang-orangpun mencegahnya), yakni dengan lisan(ucapan) mereka. Sementara dalam riwayat Imam Bukhari dalam bab "AlAdab" disebutkan, "Maka orang-orang bergerak mendekatinya." Lalubeliau menyebutkan pula dari hadits Anas, "Maka mereka berdiri menujukepadanya." Dalam riwayat Al Isma'ili dikatakan, "Maka parasahabatnya hendak mencegahnya." Kemudian dalam riwayat Anasdisebutkan, "Maka orang-orang melarangnya."

Diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dari jalur Abdan -salah seorangguru Imam Bukhari- dengan lafazh, "Maka orang-orang dengan suaralantang menegurnya." Demikian pula yang dinukil oleh An-Nasa'i darijalur Ibnu Mubarak. Dari riwayat-riwayat ini menjadi jelas bahwapencegahan yang dilakukan oleh para sahabat adalah dengan lisanmereka dan bukan dengan menggunakan tangan (kekerasan). Sementaraitu dalam riwayat Imam Muslim dari jalur Ishaq dari Anas disebutkan,"Maka para sahabat berkata kepadanya, 'berhenti... berhenti...!"'

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ(Karena sesungguhnya kamu diutus) Penisbatan kata"diutus" kepada para sahabat hanyalah dalam bentuk majaz (kiasan),karena sesungguhnya beliau SAW yang diutus mengemban misi sepertiitu. Akan tetapi oleh karena para sahabat merupakan penyambung lidahbeliau SAW baik di saat masih hidup maupun setelah wafatnya, makaapa yang menjadi misi beliau dinisbatkan pula kepada para sahabatnya.Sebab para sahabat dibebani misi demikian oleh beliau SAW.Demikianlah yang selalu beliau SAW lakukan setiap kali mengutusseseorang ke setiap pelosok, dimana beliau SAW senantiasa bersabda,"Permudahlah dan jangan mempersulit."
4.      Makna Umum HaditsPersfektifPendidikan

Secara umum konteks hadist diatas menggambarkan ketika Rasulallah menyampaikan pengajaran di masjid, ada seorang Arab pedalaman (Badui) kencing di salah satu sudut masjid. Rasulallah tidak memarahi bahkan mencegah sahabat yang hendak melarangnya. Selanjutnya Rasulallah menyuruh sahabat menyiram air kencing tersebut dengan ember. Rasulallahmencegah para sahabat-sahabat yang mencobamencegahnyadengan kata-kata yang lembutdanbijak.

Untukmendapatkanpemahaman yang tepatterhadaphaditstersebut, pemakalahmencobamenjelaskanbaikdariaspekpembicara (kapasitas) maupunpemahamandarisegikebahasaannya.

a.      Kapasitas Pembicara dalam hadist

Dari segi kapasitas pembicara, dalam hadist tersebut menunjukkan Rasulallah berperan sebagai Rasul ketika menjelaskan bagaimana membersihkan najis, sehingga ini masuk dalam kajian syar’i. Selain itu sekaligus Rasulallah  ingin menunjukkan kapasitasnya sebagai Pendidik dengan sifat toleransi dan bijaksaterutamaketika menghadapi seorang peserta didik yang berasal dari suku Arab pedalaman dengan latar belakang budaya yang jauh tertinggal dari peserta didik lainnya.

Penempatan kapasitas sebagai manusia biasa dalam konteks hadist ini tepat karena apa yang ditunjukkan Rasulallah adalah bagaimana seharusnya bersikap terhadap peserta didik dengan latar belakang yang berbeda. Olehkarenaitu, bilamisalnyakapasitasbeliausebagaiRasuldalamkontekstersebutmakasemuapendidik yang tidaktolerandanbijaksanaakandikenaihukumdosa.

Pada makalah ini sengaja kami tidak membahas kapasitas beliau sebagai Rasul, karena pembahasan kami lebuh menekankan pada asfek sifat toleransi dan bijaksana dalam hadits tersebut.

b.      Kandungan hadist persfektif Pendidikan

Bahasa yang disampaikanRasulallahsebagaiseorangpendidikdisampaikanapaadanyadansangatmudahdipahamimaksuddarimatanhaditstersebut. Adapunpesan yang tekandungdalamhaditstersebutdapat di jelaskankhususnyapadaaspeksifat-sifatsebagaipendidik :

1.      Toleransi

Dalam  bahasa Arab kata toleransi diartikan sebagai Tasamuh. Imam Ibnu Hajar mendefenisikan kata al-samhah dengan pengertian kemudahan yaitu sesuatu yang berlandaskan kemudahan.

Dalam hadits sifat tasamuh Nabi SAW terlihat pada kataدَعُوهُ (biarkanlah ia) ketika sahabat hendak melarang dan mencegah seorang Arab Badui tersebut ketika ia kencing didalam masjid. DisiniRasulallah hendak memberikan kemudahan dan tidak mempersulit muridnya. Sifat seperti itu sungguh luar bisa dan patut menjadi teladan bagi setiap guru.

Toleransinya akhlak Nabi –shallallahu a’laihi wa sallam-. Beliau memberi petunjuk kepada orang Arab Badui tersebut dengan lemah lembut setelah dia selesai kencing, yang membuat dia mengkhususkan doanya untuk nabi, dia berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah engkau rahmati seorangpun yang ada bersama kami”, sebagaimana yang terdapat di Shahih Al Bukhori.

Ini menunjukkan sifat toleran terhadap murid justru membawa dampak positif bagi murid sehingga merasa dihargai dan diperlakukan lembut, sehingga proses untuk mendapat ilmu dari sang guru lebih mudah.

Dari aspek budaya, Orang yang kencing didalam masjid tersebut merupakan masyarakat biasa yang  Jauh dari budaya masyarakat kota menyebabkan kurangnya pengetahuan dan kebodohan.Dalam konteks pembelajaran ini bisadiibaratkanseorang murid yang hendakbelajarmemilikilatarbelakangbudaya misalnya yang jauhtertinggaldari murid-muridlainnya. Sehinggatidakterbiasadenganetikaselayaknyaseorangmuslim. Sepertiakhlaqdalambelajardanketikaberadadidalam masjid.

Namun dalam kapasitas sebagai seorang guru, disini tampak Rasulallah sangat luas pandangan beliau dan pengenalan beliau tentang tabiat manusia serta kondisi budaya dan psikologis muridnya. Serta baiknya akhlak beliau bersama mereka sampai-sampai seluruh hati mereka mencintai beliau, Allah ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS Al Qolam : 4).

2.      Bijaksana

Dalam bahasa arab kata bijaksana diterjemahkan dengan kataحكيم atau الحكمة( kebijaksanaan). Dalam konteks hadits diatas Rasulallah sangat bijaksana ketika mencegah para sahabat untuk tidak memarahi dan menghardiknya apalagi mengusir karena akan berdampak mudhorat yang lebih besar yaitu tersebarnya air kencing ke berbagai tempat di dalam masjid. Dan iniakanmenimbulkankesulitandalammembersihkannya.

Ketika ada berbagai kerusakan berkumpul, maka yang dilakukan adalah kerusakan yang lebih ringan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membiarkannya sampai selesai kencing, agar tidak mengakibatkan mudhorat dengan terputusnya kencing (secara mendadak) dan dari terkotorinya badannya, pakaiannya, dan menyebarnya kencing tersebut ke daerah lain di dalam masjid tersebut, serta bahaya yang terjadi pada tubuhnya khususnya saluran kencing.

InibisadibayangkanseandainyaRasulallahmembiarkanjama’ah yang hadirdalammajelistersebutmemarahidanmengusirseorangBaduiyang sangatawamtersebut.Tentuakanlebihbanyaklagimudhorat yang akanmuncul, diantaranya air kencingtersebutakanberceceranlebihluaslagi, dariaspekpsikologisakanmenimbulkan trauma bagisi murid untukmenghadirimajelisilmuRasulallah, merasarendahdiridan minder, sehinggamerekaakanterustertinggal.

Dari sinijelasmemberiisyaratbahwaseorangpendidikseharusnyamemilikisfatbijaksana, mengingatlatarbelakangmasing-masing murid berbedadantidakbisadigeneralisirbahwamerekapintarsemuadanmemilikilatarbelakang yang sama.Sehinggaperlupendekatanmaupuncara yang berbedadalammenghadapipesertadidik.

Selainitudalamhaditsdiatasmemberipemahamanbahwa yang dikenai hukum-hukum syar’I berupa dosa atau hukuman di dalam kehidupan hanyalah untuk orang yang tahu terhadap hukumnya, adapun orang yang bodoh maka tidak tercela baginya, akan tetapi diajarkan padanya agar dia mengerjakannya.Inimenuntutseorang guru harusbenar-benarfahamakankondisipesertadidik. Perlukebijaksanaanmengahadapipesertadidikterutamadalammemberikanhukumanatausanksi.

SikapbijaksanajugadapatdilihatbagaimanaRasulallahmenegursahabatnyadengan kata-kata yang lembutsepertipadakalimatterakhirhaditstersebutفَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ (Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan).Tegurantersbutcukupjelastapitidakmembuatsahabattersinggung.InimenunjukkanbahwaRasulallahmemiliki control emosi yang tinggidanmemilikikecerdasandalammenggunakankalimatteguran yang sangatlembuttapitetaptegas. Bilaseorang guru memperlakukanmuridnyademikiantentusecarapsikologisakanberdampakpositifterhadap proses pembelajaran, murid terasanyamanmengikutipelajaran.

Anjuran lemah lembut dalam mengajarkan orang yang bodoh tanpa kekerasanAllah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Di ayatlainAllah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)






C.    KESIMPULAN

Berlaku lembut terhadap orang yang tidak tahu dan mengajarinya mengenai perkara yang mesti dilakukannya tanpa diiringi kekerasan jika perbuatan tersebut tidak dilakukannya dalam rangka pembangkangan. Perlakuan lembut seperti ini lebih dianjurkan untukdilakukan terhadap mereka yang perlu dilunakkan hatinya.

Penjelasan tentang kasih sayang dan kelembutan NabiSAW serta kebaikan akhlaknya. Disebutkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam hadits Abu Hurairah RA, "Setelah orang Arab badui tersebut memahami ajaran Islam, dia berdiri menghampiri Nabi SAW seraya berkata, 'Demi bapak dan ibuku, sungguh engkau tidak berlaku kasar dan tidak mencela.'"

Haditsini mengajarkan kepada kita bagaimana toleransinya akhlak Nabi –shallallahu a’laihi wa sallam-. Beliau memberi petunjuk kepada orang arab Badui tersebut dengan lemah lembut setelah dia selesai kencing. Luasnya pandangan beliau dan pengenalan beliau tentang tabiat manusia serta baiknya akhlak beliau bersama mereka sampai-sampai seluruh hati mereka mencintai beliau, Allah ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS, Al-Qolam : 4).

Dalam kajian sederhana, hadits ini memberitahukan kepada kita bahwa ketika ada berbagai kerusakan berkumpul, maka yang dilakukan adalah kerusakan yang lebih ringan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membiarkannya sampai selesai kencing, agar tidak mengakibatkan mudhorat dengan terputusnya kencing (secara mendadak) dan dari terkotorinya badannya, pakaiannya, dan menyebarnya kencing tersebut ke daerah lain di dalam masjid tersebut, serta bahaya yang terjadi pada tubuhnya khususnya saluran kencing.

Pesan yang disampaikanolehRasulallahdalamhadistsaratdengannilai-nilai yang selayaknyakitateladani. Dan sifattoleransisertabijaksanadalampembelajaranmerupakansifat yang harusdimilikiolehseorang guru, mengingatlatarbelakangantara murid yang satudenganlainnyatidaksama. Makaseorang guru dibutuhkankepekaandankecerdasandalammengadapi murid-muridnya.InilahkonsepHakasasi yang ideal menurutpemakalah, karenasikaplembutnamuntetaptegastidakakanmembuat murid-muridnyatertekandalammengikutipembelajaran. Bahkan rasa amandannyamanmembuat murid-muridnyasemangatdalammengikutipembelajara.





DAFTAR PUSTAKA


1.      Thahan , Mahmud , Ilmu Hadits Praktis, (penterjemah  Abu Fuad), (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2010)

2.      Sabiq, Sayyid , 1993, Fikih Sunah, (penterjemah Mahyuddin Syaf), Bandung: Al-Ma’arif.

3.      Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar, 2002, Tarjamah Fathul Baari Sarah Sahih Al-Bukhari, (penterjemah Amiruddin, Lc), Jakarta: Pustaka Azzam.

4.      Pranata, Zudi, 2012. http/zudi-pranata.blogspot.com/2012/11/perspekstif-hadits-tentang-sifat-sifat_17.htmldiaksestanggal 31 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar