PENGARUH
KEKASIH
TUGAS
INDIVIDU MATA KULIAH TAFSIR HADIS
TAFTISY
DISUSUN OLEH;
SHOLIHAN,S.Ag
MAHASISWA PASCA SARJANA S2
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah Tuhan semesta alam yang telah
memberikan nikmat dan taufik-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas
Individu dengan Tema “Pengaruh Kekasih”.
Dalam penulisan makalah ini tentu
masih banyak kekurangan boleh jadi karena keterbatasan sumber maupun kurangnya
pengetahuan. Namun berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini
dapat terselesaikan. Oleh karena itu, tak lupa penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
- Allah SWT;
- Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., dosen pembina matakuliah Tafsir Hadis Taftisy;
- Kedua orang tua dan keluarga ;
- Teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, atas dukungan serta doanya.
Sebagai manusia biasa, kami menyadari
bahwa “kami tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan”. Oleh karena itu,
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan.
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL i
KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI iii
BAB 1. 1
PENDAHULUAN.. 1
A. Latar Belakang. 1
B. Rumusan Masalah. 1
BAB II
A. Pandangan Al-qur an terhadap
pengaruh kekasih 2
B. Hadis-hadis yang berkaitan dengan
pengaruh kekasih 2
BAB III
PENUTUP
A.
kesimpulan. 7
B.
Saran. 7
DAFTAR RUJUKAN 7
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Setiap anak memiliki potensi yang dibawa
oleh fitrahnya. Namun potensi anak didik tidak akan berkembang dengan
sendirinya tanpa ada usaha atau pengaruh dari lingkungan pendidikan sekitar.
Bahkan pendapat ahli didik yang ekstrim yang disebut dengan aliran empirisme
mengatakan bahwa anak didik bagaikan kertas putih bersih yang masih polos yang
sangat bergantung pada pengaruh penulisnya. Begitu kekuatan pengaruh terhadap
potensi anak didik yang sangat menentukan bentuk dan warna anak didik. Islam
sebagaimana yang disebutkan beberapa hadis mengakui adanya pengaruh pendidikan
dari luar diri anak disamping anak telah membawa potensi yang disebut dengan
fitrah islamiyah. Fitrah itu dibawa oleh anak didik sejak lahir dan fitrah itu
sudah tertulis bukan berarti kosong. Tulisannya adalah al-Islam. Pengaruh
pendidikan disekitarnya tinggal mengembangkan keislaman fitrah tersebut.
Setidaknya ada empat hal yang dapat mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan
fitrahnya yaitu Pengaruh teman, pengaruh kekasih, pengaruh orang tua dan
pengaruh pendidik.
B. Rumusan Masalah.
1. Bagaiamana
pandangan Al-qur an terhadap pengaruh kekasih
2. Apa
Maksud Hadis-hadis yang berkaitan dengan pengaruh kekasih
BAB II
PEMBAHASAN
. A.Pandangan Al-qur an terhadap
pengaruh kekasih
Alqur an menggambarkan kondisi orang-orang kafir
diakherat karena salah teman yang mengakibatkan kesesatan yang membawanya
menuju jurang neraka sebagaimana terdapat didalam Al qur ansurat Al Furqon ayat
27-29
..............................................................
27. dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit
dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan
bersama-sama Rasul”.
28.
kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu
teman akrab(ku).
29.
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku
dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu
tidak mau menolong manusia.
Ulasan
penulis ayat tersebut menjelaskan
bagaimana pengaruh orang yang dicintai dalam kehidupan yang kemudian
berpengaruh pada prilaku kita yang sadar auatu tidak menyesuaikan dengan orang
yang dicintainya.
2. Hadis-Hadis Yang Berkaitan
Dengan Pengaruh Kekasih
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الرَّجُلُ عَلَى
دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه ابو داود والترمذي)
1. Kosakata (Mufradat)
a. عَلَى
دِيْنِ خَلِيْلِهِ
|
Mengikuti
agama kekasihnya atau agamanya
|
b. الخَلِيْلِ
|
Kekasih
kemudian bisa diartikan teman yang menjadi kekasihnya
|
c. فَلْيَنْظُرْ
|
Maka
hendaklah perhatian, perhatian dengan mata hati
|
d. مَنْ يُخَا
لِلْ
|
Siapa yang
menjadi kekasihnya
|
Dari Abi Hurairah r.a. bahwasanya
Nabi Saw. Bersabda: “seseorang itu mengikuti agama kekasihnya, oleh sebab itu
hendaklah salah seorang diantara kamu memperhatikan siapakah kekasihnya.” (HR.
Abu Dawud dan al-Turmudzy). ( Anwarmyla :2013)
Ulasan
Maksud hadis
mengandung makna majazi karena
maksudnya bukan larangan berteman dengan oran yang berlainan agama, karena Nabi
Muhammad Saw. Sendiri sangat akrab dengan pamanya Abu thalib yang saat itu
berbeda agama, jadi maksud hadis ini merupakan anjuran kepada kita jika hendak memilih
kekasih untuk dijadikan teman agar memperhatikan kebiasaan dan akhlaknya,
carilah kekasih yang baik akhlaknya. Jika baik akhlak kekasih itu temanilah dan
jika buruk perangainya tinggalkanlah, karena sesungguhnya watak atau karakter seseorang
akan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Al-Ghazali berkata:”Berteman
dengan orang yang rakus dunia menjadi rakus dan berteman dengan orang yang
zuhud menjadi zuhud”.
Anjuran memilih teman yang baik dalam hadis tersebut
berlaku kepada semua orang sekalipun kecenderungan hatinya tidak baik. Demikian
juga makna kekasih juga bersifat umum, baik kekasih sebagai teman biasa atau
kekasih sebagai sahabat maupun kekasih
untuk dijadikan pasangan seperti calon istri, calon menantu, dan calon
mertua. Semuanya hendaknya lebih mengutamakan faktor agama dan akhlak.
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّهُ قَالَ « الْمَرْءُ
مَعَ مَنْ أَحَبَّ (رواه البخاري)
Dari “Abdillah dari Nabi Saw. bahwasanya Nabi Saw. Bersabda: “Orang itu akan
bersama-sama orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini
mempunyai maksud majazi dengan pengertian seperti yang telah dijelaskan diawal
عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى رَجُلٍ
أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ (رواه مسلم)
Dari
Abdillah berkata telah datang seorang laki-laki kepada Rasululloh Saw. Kemudian
bertanya Ya Rasululloh bagaimana engkau mengetahui seseorang yang mencintai
sesuatu kaum (sekelompok orang) tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka”,
maka beliau menjawab:” Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang
dicintainya (HR
Muslim)
عَنْ
أَبِى مُوسَى قَالَ قِيلَ لِلنَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - الرَّجُلُ يُحِبُّ
الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ (رواه
البخاري)
Dari Abi Musa bertanya
dijawab oleh Nabi Saw. seseorang yang mencintai sesuatu kaum (sekelompok
orang) tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka”, maka beliau menjawab:”
Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya (HR.Bukhori)
Hadis ini
mempunyai maksud majazi dengan pengertian secara psikologis setiap orang
mempunyai kecenderungan untuk memilih kekasih atau teman yang dicintainya.
Teman atau kekasih yang dicintai seseorang pada umumnya sesuai dengan apa yang dicintai
oleh dirinya. Seseorang berkelompok atau berkumpul pada umumnya juga cenderung
memilih kelompok yang sama. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan antara sesame
teman yang dicintai baik dalam beragama, hobi, kesenangan, watak, karakter,
profesi dan lain-lain. Misalnya mahasiswa IAIN Pontianak kecenderungan
berkumpul sesame mahasiswa dari IAIN ,
minimal yang memiliki watak atau visi dan misi yang sama ketika
bercampur baur dengan para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Demikian
juga seorang guru, dosen, ulama, dokter, insinyur, karyawan dan lain-lain. Oleh
karena itu, di sana banyak kelompok atau organisasi yang mengikat kecenderungan
yang sama tersebut.
Bersama artinya dinilai sama atau
dihukumi sama antara yang mencintai dan yang dicintai. Jika orang yang dicintai
itu baik, maka orang itu dinilai baik pula dan jika orang yang dicintai itu
tidak baik, maka ia dinilai tidak baik. Dalam konteks hadis di atas sahabat
tersebut digiring bersama Nabi dalam surga sekalipun tidak sama kelasnya,
tentunya kelas surga Nabi yang paling tinggi, karena amaliah beliau yang tidak
sama dengan manusia biasa. Dalam satu riwayat seorang sahabat bertanya:
Bagaimana jika seorang mencintai kaum, tetapi amalnya tidak sama dengan mereka?
Nabi tetap menjawab: “seorang bersama dengan orang yang dicintainya”. ( Anwarmyla. 2013.)
Adapun yang dimaksud kekasih dalam teory
of love disebutkan four
main varieties . Affection (or Storge, pronounced “Stor-gay”)( empat varietas utama Kasih sayang (atau
Storge, diucapkan "Stor-gay")
antara lain cinta keluarga, cinta persahabatan, cinta pada pasangan maupun
karena kesamaan hoby ,profesi (Hendrick, C.,
& Hendrick, S. S. (1989).
Selain guru, orang
tua, dan teman, Kekasih merupakan salah
satu diantara hal – hal yang dapat
mempengaruhi terhadap pendidikan atau keberhasilan dalam pembelajaran. Pengaruhnya
dapat diklasifikasikan menjadi 2 aspek, Aspek positif dan negatif dari hal
tersebut.
Pengaruh Positif dan
Negatif terhadap pendidikan
Kekasih sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pengaruh positif terhadap prestasi
belajar siswa antara lain:
1. Bisa untuk saling
menginggatkan dalam hal-hal positif;
2. Sebagai penyemangat
dalam belajar;
3. Bisa menjadi teman
curhat;
4. Bisa menjadi orang
yang selalu ada untuk sharing dimanapun kita berada.
Sedangkan pengaruh
negative terhadap prestasi belajar siswa antara lain:
1. Bisa membuat malas
belajar;
2. Bisa membuat nilai
menjadi turun;
3. Bisa menyita waktu
belajar untuk pacaran;
4. Pacaran bisa menjerumuskan kita pada seks bebas
yang dapat mengarah pada penggunaan obat-obat berbahaya, hal-hal pornografi
bahkan narkoba.
Hendaknya bersikap
selektif dalam memilih kekasih, kekasih yang baik seyogiyanya dapat mengantarkan
kita arah yang lebih baik dan bermanfaat, ( Zakiyah Dradjat, 1991: 47)
BAB III
PENUTUP
A.
kesimpulan.
Kekasih itu berpengaruh dalam pembentukan pribadi
seseorang dan keselamatan dari siksa neraka. Memilih kekasih harus sangat
selektif demi Terciptanya manusia berakhlakul karimah
B.
Saran. 9
Carilah
kekasih yang mampu membawa kita mencapai asa dan keselamatan hidup di dunia dan
akherat.
Tinjauan
Pustaka.
[1]. Zakiyah Dradjat, Pendidikan islam, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 1991), h.
2 47anwarmyla.blogspot.com/2013/.../makalah-hadis-tarbiyah-pengaruh.htm.
3. Hendrick, C., & Hendrick, S. S. (1989). Research on
love: Does it measure up? Journal of
Personality and Social Psychology, 56, 784-794.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar